RON A. HARRIS : WHO’S MOST AT SEISMIC AND TSUNAMI HAZARDS IN INDONESIA?

0
671

MAGELANG – Sebagai wilayah yang dilalui Ring of Fire atau jalur cincin api Pasifik sekaligus menjadi tempat bertemunya beberapa lempeng bumi seperti lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik, Indonesia berpotensi mengalami gempa bahkan tsunami.

So, who’s most at seismic and tsunami hazards in Indonesia? Can we reduce the risk?,” tanya Ron A. Harris, Profesor ahli Geologi dari Brigham Young University, US.

Pada kunjungan akademiknya, Jumat (27/05/2016), Prof. Harris membagikan sebagian kecil dari hasil penelitiannya mengenai sejarah gempa di Indonesia kepada semua tamu undangan yang hadir di ruang LPPM-PMP saat itu. “Apakah Sumatera saja, Jawa saja atau orang lain? Kita semua harus siap saat bencana itu seketika terjadi,” jelasnya.

Menurutnya, pengetahuan mitigasi bencana penting untuk mengurangi resiko jatuhnya korban pada saat bencana terjadi. Pada tahun 2013, Juliana, seorang warga Ambon yang juga anggota dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendapatkan pelatihan dari WAVES sebuah tim riset yang bergerak dalam bidang mitigasi bencana asuhan Prof. Harris berhasil menyelamatkan lebih dari 2500 orang di Negri Lima, Ambon dari tanah longsor dan banjir bandang. “Juliana menginformasikan pada warga sekitar bagaimana mendekteksi datangnya bencana dan bagaimana upaya penyelamatan diri,” kata Prof. Harris.

Selama 20 tahun melakukan penelitian di Indonesia, Prof. Harris berhasil menemukan dokumen sejarah kegempaan di Indonesia dalam bahasa Belanda. Dokumen ini memaparkan catatan gempa dan tsunami di Indonesia mulai dari tahun 1500an sampai 1800an. Disebutkan bahwa telah terjadi lebih dari 1000 gempa bahkan 130 diantaranya termasuk gempa besar dan lebih dari 95 tsunami pernah terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan gempa yang akhir-akhir ini terjadi diprediksi merupakan “pengulangan” siklus gempa yang pernah terjadi pada saat itu. Keterlambatan dalam mengetahui sejarah gempa dan tsunami ini membuat beberapa lokasi rawan bencana sudah terlanjur dijadikan lokasi tempat tinggal penduduk setempat. “Segera kami alih bahasakan dokumen ini dalam bahasa Inggris bahkan Indonesia, sehingga semua orang tahu dan memulai usaha pencegahan bencana dimulai dari pemilihan lokasi tempat tinggal atau membuat tempat tinggal tahan gempa,” tambahnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY